Showing 11–20 of 609 results

Sort by:
  • Merawat Ingatan by:
    Rp58.000

    “Yang sudah tumbuh jangan dibiarkan layu.
    Yang sudah kuat jangan dibiarkan rapuh.
    Yang sudah utuh jangan dibiarkan hancur.
    Yang sudah ada jangan dibiarkan hilang.
    Sebab mengenang adalah pekerjaan rumah yang tak pernah selesai.”

  • #SobatSakit by:
    Rp83.000

    “Nama cewek ente siapa, sih?” tanyaku pada Ucok.
    “Ami. Nama panjangnya Amirudin,” jawab Ucok.
    “Panggilan sayang ke dia apa?”
    “Bunda.”

    Aku berpikir keras gimana caranya supaya Ami terkesan lagi sama Ucok.
    “Aku punya ide! Tapi, ini butuh akting yang sedikit natural,” ucapku kepada kedua berhala itu.
    “Apaan, tuh?” tanya Ampang.
    “Cara ini biasanya ampuh untuk menarik perhatian cewek,” kataku meyakinkan.
    “Pake susuk?” celetuk Ampang.
    “Jangan, pake susuk nggak ngaruh sama mukanya yang di bawah UMR,” jawabku.
    “INI MAU BANTU APA NGEHINA?!” Ucok terlihat senang.

    Sebelumnya, kami riset dulu soal Ami. Kuliahnya di mana, rumahnya langganan banjir nggak,
    apa hobi bapaknya, sama tahun berapa Portugis ke Maluku. Hampir saja rencana kami batal pas
    Ucok bilang kalau bapaknya Ami seorang anggota. Kami sempat takut, tapi nggak tahunya
    anggota koperasi.

  • Biarkan Aku Menulismu Sekali Lagi by:
    Rp55.000

    Tidak dalam rindu; tidak dalam pilu yang sudah berlalu.

    Biarkan aku menulismu sekali lagi. Dalam larik yang tak ingin kamu baca; dalam doa yang tak pernah kamu dengar.

    Karena ia melangit dan terbuang, di antara mimpi yang sudah usang.

  • Manusia Bermiliar-Miliar, Cuma Kamu yang Bikin Ambyar by:
    Rp58.000

    Tuhan, nama gadis manis yang kutulis dengan tanganku apakah sama dengan nama yang ada di tangan-Mu?

  • trauma novel boy candra
    Trauma by:
    Rp58.500

    Semua seolah baik-baik saja. Tawa yang lepas. Lampu panggung yang meriah. Kehidupan yang mungkin diinginkan banyak orang. 

    Aku memiliki beberapa hal yang orang lain tidak miliki. Semua tampak sempurna. Seolah tidak ada celah untuk luka. 

    Namun jauh di dalam diriku, kesepian selalu datang menghampiri. Kesedihan yang sering kusembunyikan. 

    Aku bahkan tidak berani membuka hati lebih luas lagi. Orang-orang yang pernah datang di masa lalu membekaskan rasa takut yang membeku. 

    Aku takut tidak bisa menemukan orang yang tepat. Takut terulang lagi kecewa yang sama. Takut jatuh lagi pada rasa sayang yang akhirnya sia-sia.

     

  • Mula by:
    Rp66.000

    Pertemuan dengan Satria seperti membawa Anum kembali menjadi seperti bayi.
    Berputar-putar menyeret banyak tanda tanya tentang jalan hidupnya sendiri.
    Padahal, jawaban-jawaban itu tidak akan lari.
    Selalu mengekor, menenangkan dengan keputusan yang ia yakini.

    Bertemu Satria, Anum ingin tahu akhirnya akan tiba di mana.
    Ia ingin tahu jawaban dari setiap kenapa dan untuk apa.
    Satria membuat Anum ingin menyerah, tapi juga membuatnya berpikir Satria adalah jalan keluarnya.
    Sejak awal; sejak Satria tiba dan semua bermula.

  • Kita Sebelum Sebuah Lupa by:
    Rp66.000

    “Kenapa?”
    “Kenapa apanya?”
    “Kenapa ngelihatin aja, tapi nggak bicara apa-apa?”

    Kami yang berhadap-hadapan, masing-masing mencari jawaban.
    Dari mata yang tak beralih, pada bibir yang mulai tersenyum.

    “Ya, ngelihatin aja. Aku senang lihat kamu,” jawabnya, membuat pipi pucatku berubah warna.
    “Titik nyaman tertinggiku ada pada matamu, bukan bibirmu,” sambungnya lagi.
    “Aku nggak ngerti.”
    “Maksudnya, kamu nggak perlu banyak bicara. Bahkan, dalam hening dan diam, melihatmu, aku bisa menemukan tenang.”

    Dan, entah berapa malam sejak percakapan itu, kami pun pergi. Berjalan di atas roda hidup sendiri-sendiri.

  • Lasmi by:
    Rp85.000

    Kuring lumpat ka sisi laut milari …
    (Aku lari ke pantai mencari)

    Kuring lumpat ka gunung milari …
    (Aku lari ke gunung mencari)

    Cai panon nu nyakclakan nu nyakseni
    (Air mata yang bergemercik menjadi saksi)

    Kuring ngantosan
    (Aku menunggu)

    Kedah ka saha deui?
    (Harus ke siapa lagi?)

    Kuring kedah mulang …
    (Aku harus pulang)

    *****

    Tak ada yang diharapkan Lasmi selain kehadiran si buah hati dan kesembuhan Asep, suaminya. Bertahun-tahun Lasmi difitnah dan digunjingkan oleh para tetangga karena dia tak kunjung hamil serta pekerjaannya sebagai sinden. Lasmi memanjangkan sabar, hingga akhirnya doanya dikabulkan.

    Namun, takdir tidak memihak Lasmi. Kebahagiaannya tak berlangsung lama dan mimpinya tak jadi kenyataan. Kecelakaan tragis merebut nyawa Lasmi dan janinnya. Kematian yang tak dikehendaki itu menciptakan dendam kesumat yang mengubah arwah Lasmi menjadi sosok kuntilanak merah yang mengerikan.
    Lasmi pun bergentayangan; menjaga Asep yang sakit-sakitan, dan ingin membalas dendam kepada orang yang mencelakainya.

    “Lasmi”, cerita yang diangkat berdasarkan kisah nyata sesosok kuntilanak merah.

  • Museum of Broken Heart
    Museum of Broken Heart by:
    Rp85.000

    Forgetting you should be easy, but it’s the hardest thing I’ve had to do

     

    Foto box, tiket parkir, history chat, hadiah ulang tahun, tiket bioskop, foto-foto selfie, voice note, lagu-lagu yang selalu diputar di mobil, wangi parfum, bekas kecupan, gelung cincin di jari manis, orang tua yang sudah telanjur mengenal akrab, temaram lampu jalanan kota menjelang pukul enam, warung-warung tenda, McD, waktu temu, teman-temanmu yang menyenangkan, screenshot percakapan tentang segala rencana-rencana kita yang ternyata tak menjadi nyata;
    dan … kamu,
    adalah kumpulan dari kenangan-kenangan bahagia yang pada akhirnya tak lagi bermakna. Selayaknya jelaga, perlahan terkikis sebelum hilang selamanya.
    Terkumpul dalam sebuah ruang benda-benda usang. Sebuah museum tentang cerita patah hati. Tentang banyaknya kepercayaan yang dibawa pergi.

  • Proelium by:
    Rp79.500

    Sejatinya, hidup merupakan pertarungan yang tak ada habisnya. Sejak lahir, hingga tanah meminta. Bertarung melawan kebatilan. Melawan sistem yang korup. Melawan perusakan alam. Bertarung dengan keinginan demi keinginan.

    Namun, pertarungan yang jauh lebih besar adalah pertarungan melawan hawa nafsu diri sendiri.

    Ia yang mampu mengendalikan hawa nafsu, sejatinya akan lebih bijak dalam memaknai hidup. Sebaliknya, ia yang masih menuruti hawa nafsu, tak lebih sekadar menjadi budak nafsu yang tak berkesudahan. Pada titik itulah kematangan berpikir seseorang dipertaruhkan.

    Begitu pun yang dilalui Irham dalam setiap perjalanannya. Melalui novel Proelium ini, Irham mengajakmu bertualang, menyelami pertarungan demi pertarungan dalam hidup, hingga menemukan makna yang sebenarnya dari kata “pulang”.

    ***

    Untuk kesekian kalinya, Edelweis Basah mengajak pembacanya menyelami diri sendiri melalui perjalanan ke puncak-puncak yang terjal dan berliku. Tiada puncak yang lebih indah selain jalan pulang menemukan keheningan sejati.
    Sha Ine Febriyanti – Sutradara film, Aktris, Pencinta Alam.

arung agit kurniawan