Romance (49)

Showing 1–10 of 49 results

Sort by:
  • Merayakan Kehilangan (Edisi Baru) by:
    Rp85.000

    Aku sudah bahagia sekarang. Tak perlu kau cemaskan aku lagi.

    Aku sudah ditemukan oleh seseorang. Yang seperti doamu dulu sebelum pergi meninggalkanku;
    yang akan benar-benar menyayangiku. Yang akan benar-benar mencintaiku.

    Kini aku telah ditemukannya, seseorang yang mencintai aku sebesar cintaku kepadamu dulu;
    atau bahkan lebih.

    Aku sudah bahagia sekarang. Tak perlu lagi kau khawatirkan kabarku.

    Salahmu telah kumaafkan, luka olehmu telah tersembuhkan. Tak perlu lagi merasa bersalah
    karena meninggalkan aku, tak perlu lagi kau kasihani keadaanku. Hujan di kelopak mataku tak
    lagi memanggil namamu. Di dalam doaku namamu telah digantikan oleh nama yang baru.

    Aku sudah bahagia sekarang.

    Terima kasih telah memutuskan untuk pergi. Caramu menyakitiku kemarin, adalah cara Tuhan
    mempertemukan aku dengannya;

    hari ini.

  • Kita Semua Pernah Sedih by:
    Rp58.000

    Jadilah yang tenang dalam menghadapi gaduhnya pikiranku. Jadilah peredam dalam riak liar ambisiku. Sungguh tiada bertahan kita, jika saling keras tanpa reda. Sungguh habislah kita jika sama-sama ingin menang sendiri selamanya. Jika aku yang sedang penat, jadilah tempat bersandar untukku rehat. Jika kamu yang sedang lelah, kusediakan segalanya untuk memulihkan yang lemah.

  • Brought Together For Love by:
    Rp75.000

    Kita sama; sama-sama saling mencintai.
    Yang berbeda hatiku satu tuju; kamu. Sedang hatimu masih tertinggal di masa lalu.
    Meski begitu, kita tak saling pergi, demi sebuah cinta yang mungkin akan abadi.

  • Arung by:
    Rp70.000

    Mungkin, dengan melepasmu, aku belajar satu hal: bahwa cara untuk memelukmu hangat, tak harus selalu dengan kedua lengan.

  • Skenario Ruang Waktu by:
    Rp62.000

    Karena yang perlu sama-sama kita tahu, setiap orang punya cara masing-masing untuk menghadiahi dirinya saat jatuh cinta. Entah harus mengungkapkan, atau terpaksa harus meredamnya dalam-dalam.

  • 3.71 out of 5
    Ikhlas Paling Serius by:
    Rp65.000

    Semua orang pasti pernah merasakan semua tingkat bahagia dan sedih di dalam perjalanan hidupnya. Memasang senyum, meski diam-diam meneteskan air mata; menyimpan luka. Mencoba bertahan dengan keyakinan waktu yang akan menyembuhkan. Namun, kekuatan penyembuh itu sebenarnya ada di dalam diri sendiri, di dalam hati yang terluka. Kunci pembukanya adalah rasa ikhlas untuk melepaskan; menerima luka, dan berbaik hati kepada diri sendiri bahwa kita juga berhak untuk kembali berbahagia.

  • Akhir yang Tidak Kuharap Selesai dengan Membenci by:
    Rp58.500

    Aku masih tidak begitu mengerti, merelakan itu seperti apa?
    Mungkin seperti suatu hari saat kita sengaja bertemu lagi untuk tidak membicarakan apa-apa. Atau seperti perpisahan-perpisahan yang tak membutuhkan pelukan terakhir?
    Seandainya kita tidak pernah benar-benar merelakan, berjanjilah untuk tetap melanjutkan hidup apa pun yang terjadi. Berjanjilah untuk tidak menyesal pada pilihan yang telah kita putuskan.

  • 5 out of 5
    Biarkan Aku Menulismu Sekali Lagi by:
    Rp55.000

    Tidak dalam rindu; tidak dalam pilu yang sudah berlalu.

    Biarkan aku menulismu sekali lagi. Dalam larik yang tak ingin kamu baca; dalam doa yang tak pernah kamu dengar.

    Karena ia melangit dan terbuang, di antara mimpi yang sudah usang.

  • Manusia Bermiliar-Miliar, Cuma Kamu yang Bikin Ambyar by:
    Rp58.000

    Tuhan, nama gadis manis yang kutulis dengan tanganku apakah sama dengan nama yang ada di tangan-Mu?

  • 5 out of 5
    Kita Sebelum Sebuah Lupa by:
    Rp66.000

    “Kenapa?”
    “Kenapa apanya?”
    “Kenapa ngelihatin aja, tapi nggak bicara apa-apa?”

    Kami yang berhadap-hadapan, masing-masing mencari jawaban.
    Dari mata yang tak beralih, pada bibir yang mulai tersenyum.

    “Ya, ngelihatin aja. Aku senang lihat kamu,” jawabnya, membuat pipi pucatku berubah warna.
    “Titik nyaman tertinggiku ada pada matamu, bukan bibirmu,” sambungnya lagi.
    “Aku nggak ngerti.”
    “Maksudnya, kamu nggak perlu banyak bicara. Bahkan, dalam hening dan diam, melihatmu, aku bisa menemukan tenang.”

    Dan, entah berapa malam sejak percakapan itu, kami pun pergi. Berjalan di atas roda hidup sendiri-sendiri.