Showing all 3 results

Sort by:
  • Semara by:
    Rp88.000

    “Kalau ditinggal nikah?” tanya Tara.

    Aji tertegun. Tatap matanya tajam menunjukkan ketidaksukaan. Banyak hal bisa ia sembunyikan, kecuali satu: ketakutan.

    “Nggak sangup bayangin. Lagian, mau nikah sama siapa, sih?”

    Tara menggigiti bawah bibir karena sadar pertanyaannya kelewatan. Mereka berdua diselimuti keheningan. Hanya jemari mereka yang bersepakat untuk saling genggam. Dalam diam, mereka berlari-lari di labirin kepala masing-masing.

    “Jangan menikah sama orang lain, ya, Ra.”

    “Iya, Ji.”

    Mau nikah sama siapa juga kalau bukan sama kamu, sambung Tara dalam benak.

    Tak peduli seberapa sempitnya tempat ini, pelukan pun langsung mendarat erat di tubuh Tara. Dalam pelukan Aji, Tara merasa sepenuhnya dipahami, dicintai, dan dilengkapi. Percakapan setelahnya adalah mimpi-mimpi yang akan mereka susun dengan tekad tumbuh bersama dan menciptakan cerita yang tak akan orang lain punya. Siang itu, dunia Tara berubah beda. Banyak harapan yang Tara gantungkan. Banyak ucapan yang diam-diam Tara semogakan.
    Semoga kita menikah, ya, Ji.

  • 5 out of 5
    Kita Sebelum Sebuah Lupa by:
    Rp66.000

    “Kenapa?”
    “Kenapa apanya?”
    “Kenapa ngelihatin aja, tapi nggak bicara apa-apa?”

    Kami yang berhadap-hadapan, masing-masing mencari jawaban.
    Dari mata yang tak beralih, pada bibir yang mulai tersenyum.

    “Ya, ngelihatin aja. Aku senang lihat kamu,” jawabnya, membuat pipi pucatku berubah warna.
    “Titik nyaman tertinggiku ada pada matamu, bukan bibirmu,” sambungnya lagi.
    “Aku nggak ngerti.”
    “Maksudnya, kamu nggak perlu banyak bicara. Bahkan, dalam hening dan diam, melihatmu, aku bisa menemukan tenang.”

    Dan, entah berapa malam sejak percakapan itu, kami pun pergi. Berjalan di atas roda hidup sendiri-sendiri.

  • Sweet Falls by:
    Rp82.500

    Sofia Rosamund
    Bali, Indonesia. Juni 2017.

    Ada dua hal yang belum bisa Sofia lakukan sampai saat ini. Membuka hati dan berdamai dengan masa lalunya sendiri. Sampai saat ini, hatinya belum cukup ingin untuk berjuang, belum cukup ingin untuk mempertahankan sebuah hubungan, belum cukup ingin untuk merasakan. Dan mungkin, itu sebagai jawaban mengapa sampai saat ini dirinya masih melajang, sendirian.

     

    Adrian Levi
    London, Inggris. April 2018.

    Matanya memandangi sekerumunan orang yang mengantre di depan pintu Royal Albert Hall. Setiap kali dirinya sendiri, saat sedang mandi, menjelang tidur, atau bahkan saat merokok seperti ini, setidaknya 1 menit dalam sehari pikirannya dibiarkan bebas hanyut kembali ke masa lalu. Mengulang kembali skenario hidupnya. Bagaimana jika seperti ini; bagaimana jika seperti itu. Bagaimana jika dirinya menghubungi Sofia malam itu.

     

    Aaron J. Sebastian
    Bali, Indonesia. Juni 2017.

    Aaron tidak dapat menahan senyuman di bibirnya saat Sofia berdiri dengan gaun off-shoulder berwarna luscious pastel yang tadi tidak sengaja diinjaknya. Ditambah lagi obrolan singkat mereka tadi cukup meninggalkan bekas di dalam pikiran Aaron. Lucu juga, ya, dia, batin Aaron.