Seperti itulah Fidel Castro. Orang idealis paling besar zaman ini, kata Gabriel Garcia Merquez, peraih Nobel Sastra tahun 1982. Meski begitu, wajahnya hanya dua kali menjadi model perangko Kuba; sekali saat Castro memperingati kunjungan Brezhnev (1974), dan kedua saat ia memperingati 40 tahun Revolusi Kuba (1999).
Sosoknya menjadi perhatian banyak orang. Ketika ia jatuh sakit dan memutuskan untuk menyerahkan sementara tongkat kepemimpinannya kepada Raul Castro, adik dan wakilnya dalam pemerintahan, banyak orang mengira itu adalah akhir catatan panjangnya sebagai pemimpin kharismatik Kuba.
Begitu banyak pertanyaan tentangnya. Bagaimana Fidel Castro mampu berbuat sejauh ini, selama ini? Bagaimana bisa ia memiliki daya tahan luar biasa dalam menghadapi seterunya, Amerika Serikat, yang Cuma berjarak selemparan bola tangan dari negerinya. Saddam Husein, yang jarak istananya bermil-mil dari Gedung Putih, telah terjungkal. Mengapa hal ini tidak terjadi pada Castro? Sejarah seperti apa yang ia lewati dalam hidupnya? Pengalaman seperti apa yang membawanya ke titik ini?
Tulisan ini dikutip dari buku Fidel Castro Melawan karya Imam Hidayah Usman yang diterbitkan oleh MediaKita. Buku ini hendak mencoba menceritakan siapa sebenarnya Fidel Castro, perjalanan karir politiknya, serta kekuatannya dalam melawan Amerika Serikat.
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|


